Home » Menyusui » 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui

10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui

10-langkah-menuju-keberhasilan-menyusui-bundanetMemberikan ASI merupakan langkah efektif dalam mencegah kematian pada bayi. Namun ada banyak hambatan untuk menyusui, diantaranya kurangnya pengetahuan masyarakat tentang manfaat ASI serta kurangnya dukungan dari keluarga dan tidak adanya peraturan yang jelas bagi tenaga kesehatan mengenai kewajibannya untuk mendukung pemberian ASI Eksklusif. 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui atau biasa disebut LMKM ini dibuat sebagai komitmen Fasilitas Kesehatan yang diusung bersama sama masyarakat untuk mensukseskan menyusui. 10 Langkah tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memiliki kebijakan menyusui tertulis bahwa secara rutin dikomunikasikan kepada semua perawatan kesehatan staf. Fasilitas kesehatan harus memiliki kebijakan menyusui secara tertulis yang membahas 10 langkah menuju keberhasilan menyusui dan melindungi proses menyusui. Kebijakan tersebut harus ditampilkan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh pasien dan staf agar mereka mengetahui hak dan kewajibannya.
  2. Melatih semua petugas kesehatan dalam keterampilan yang diperlukan untuk melaksanakan kebijakan ini. Semua petugas kesehatan yang memiliki kontak dengan ibu dan bayi harus menerima instruksi tentang pelaksanaan kebijakan menyusui. Pelatihan menyusui dan manajemen laktasi harus diberikan kepada berbagai jenis staf termasuk karyawan baru tentang apa itu keuntungan menyusui, risiko pemberian susu formula, manajemen laktasi, bagaimana menolong ibu memulai dan memantapkan menyusui, dan menitik beratkan untuk seluruh staff agar bertahap mengeliminasi seluruh perilaku dan tindakan yang dapat menghambat proses menyusui.
  3. Memberitahu semua ibu hamil tentang manfaat dan proses pemberian ASI termasuk cara mengatasi kesulitan menyusui. Fasilitas Kesehatan memiliki peran penting dalam mengedukasi ibu hamil dan ibu menyusui. Informasi standar yang dapat disampaikan antara lain: Keuntungan Menyusui, Inisiasi Menyusu Dini (IMD), Rawat Gabung, Pentingnya menyusui semau bayi, ASI Eksklusif 6 bulan, Meyakinkan ibu bahwa ASInya cukup, resiko pemberian susu formula dan bagaimana memposisikan bayi saat menyusui. Penyampaian informasi tersebut dapat dibagi menjadi dua kali pertemuan selama kehamilan.
  4. Membantu ibu mulai menyusui bayinya dalam waktu setengah jam setelah melahirkan. Segera setelah lahir, tengkurapkan bayi dengan kulit bayi melekat pada kulit ibu (IMD – Inisiasi Menyusu Dini). Biarkan IMD berlangsung setidaknya selama 1 jam atau sampai menyusu awal selesai. Artinya semua bayi semestinya mendapat kesempatan untuk memulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Konteks “segera” berarti secepatnya setelah melahirkan tanpa adanya intervensi lain yang membuat proses IMD menjadi tertunda. Indikasi bisa dilakukannya IMD adalah, bayi dan ibu dalam keadaan stabil bagaimanapun proses melahirkan yang ibu pilih baik normal maupun caesar (Baca: IMD Dalam Berbagai Kondisi).

Kemudian bayi dirawat gabung bersama ibu, tidak dipisahkan antar keduanya tanpa indikasi medis, sehingga ibu dapat menyusui bayinya semau bayi dan tidak diberikan empeng atau dot pada bayi.

  1. Membantu Ibu melakukan teknik menyusui yang benar (posisi tubuh bayi saat menyusu dan perlekatan mulut bayi pada payudara). Beberapa ibu menyusui berhasil tanpa bantuan, tapi banyak ibu, terutama yang baru melahirkan pertama kali, perlu bantuan. Menyusui bukanlah perilaku yang benar-benar naluriah, dan teknik harus dipelajari. Staf tenaga kesehatan harus menawarkan bantuan lebih lanjut mengenai posisi dan perlekatan menyusui yang benar. Saat bayi dipisahkan dari ibu karena ada indikasi medis yang mengharuskannya berpisah, maka peran tenaga kesehatan menjadi sangat penting. Memerah ASI secara berkala dan benar, membantu penyimpanan serta memberikan ASI perah dengan menggunakan cangkir (cupfeeder/ softcup) untuk bayi dapat membantu ibu untuk tetap memberikan ASI walau bayi dipisahkan karena indikasi medis.
  2. Tidak memberikan makanan dan minuman apapun selain ASI kepada semua bayi baru lahir. Setiap bayi baru lahir yang diberi makanan atau minuman lain selain ASI harus ada alasan medis yang dapat diterima. Tidak ada promosi untuk makanan bayi atau minuman lain selain ASI. Disini fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan berperan penting untuk menjaga agar bayi tidak mendapat apapun kecuali ASI, dan merawat bayi bersama Ibu (rawat gabung) dapat membantu mereka memulai dan memantapkan menyusui.
  3. Melaksanakan Rawat Gabung dengan mengupayakan bayi selalu bersama ibu selama 24 jam. Rawat gabung yang baik adalah meletakan bayi di area dimana ibu dapat menjangkau dan merespon bayi disaat bayi membutuhkan, sehingga proses menyusui berjalan dengan lancar. Keuntungannya, bayi mendapat respon dari ibu dan akan membantu meningkatkan kedekatan (bonding), bayi jarang menangis sehingga berkuranglah keinginannya untuk memberi asupan botol, ibu menjadi lebih percaya diri dan pontensi untuk melanjutkan menyusui lebih lama akan lebih besar. Memisahkan bayi dengan ibunya akan meningkatkan hormon stress pada bayi yang berakibat pada menurunnya daya tahan tubuh bayi.
  4. Melaksanakan pemberian ASI sesering dan semau bayi. Jika bayi menyusui semau bayi maka ASI akan ‘keluar’ lebih cepat, hal ini akan membantu meningkatkan rasa percaya diri ibu, selain itu berat badan bayi akan naik lebih cepat, kesulitan lebih sedikit dan kegiatan menyusui akan lebih mudah dimantapkan.
  5. Tidak memberikan dot atau empeng. Beberapa efek negatif penggunaan dot atau empeng yang telah diteliti adalah antara lain: meningkatkan prevalensi radang telinga tengah, mal-oklusi (susunan gigi geligi dan rahang tidak sempurna) dan karies gigi (dikaitkan dengan jenis cairan yang diberikan dengan botol dot). Karena mekanisme pengaliran yang berbeda, penggunaan botol dot diduga dapat mengganggu proses menyusui pada payudara. Istilah “Bingung Puting” masih pro kontra, namun sebaiknya menghindari resiko tersebut dengan tidak menggunakan botol dot untuk memberikan ASI Perah (terutama pada bayi muda). Bayi yang minum tanpa botol dot juga terhindar dari penyapihan dini sehingga mendapat ASI lebih optimal.
  6. Menindak lanjuti ibu-bayi setelah pulang dari sarana pelayanan kesehatan. Saat ibu pulang dari Rumah Sakit, mungkin ibu akan mengalami kesulitan menyusui, tuntutan anggota keluarga lain  dan mendengar nasehat yang berbeda-beda tentang cara menyusui. Hal-hal itulah yang meningkatkan potensi untuk gagal menyusui. Sehingga dibutuhkanlah satu kelompok ibu yang dengan fokus dan terorganisir untuk membantu dan mendukung ibu menyusui. Kelompok tersebut dapat dibentuk dari sumber bantuan di masyarakat yang bisa ibu dapatkan, seperti keluarga dan teman, bantuan tersebut sebaiknya berkesinambungan dan mendapat bantuan dari tenaga kesehatan.

Referensi:

  1. Ten Steps To Successful Breastfeeding – WHO
  2. Satgas ASI Ikatan Dokter Anak Indonesia
  3. Wiyarni Pambudi SpA, IBCLC