Home » Kehamilan » Komplikasi Kehamilan » Anemia Pada Anak

Anemia Pada Anak

anemia-pada-anak-bundanetAnemia adalah kondisi dimana kadar haemoglobin (Hb) lebih rendah dari nilai normal berdasarkan usia individu. Di Negara berkembang seperti Indonesia, anemia sebagian besar disebabkan oleh kekurangan zat besi di dalam tubuh (anemia defisiensi besi). Lalu bagaimana menangani anemia pada anak?

Nilai normal haemoglobin (Hb) bisa berbeda-beda antar rumah sakit atau laboratorium. Biasanya setiap laboratorium akan menyertakan nilai rujukannya. Berikut ini contoh nilai normal haemoglobin laboratorium menurut Royal Children Hospital dan American Academy of Paediatrics.

Tabel 1. Batasan anemia menurut Royal Children Hospital Melbourne

Usia Anemia bila Hb
< 2 bulan < 9 mg/dl
2 – 6 bulan < 9,5 mg/dl
6 – 24 bulan < 10,5 mg/dl
2 – 11 tahun < 11,5 mg/dl
> 12 tahun Perempuan : < 12 mg/dl,

Laki-laki : < 13 mg/dl

Tabel 2. Batasan anemia menurut American Academy of Paediatrics :

Usia Nilai Normal Hb (g/dL) Anemia bila kadar Hb
0-3 hari 15.0-20.0  < 15 mg/dl
1-2 minggu 12.5-18.5  < 12,5 mg/dl
1-6 bulan 10.0-13.0  < 10 mg/dl
7 bulan – 2 tahun 10.5-13.0  < 10.5 mg/dl
2-5 tahun 11.5-13.0  < 11.5 mg/dl
5-8 tahun 11.5-14.5  < 11.5 mg/dl
13-18 tahun 12.0-15.2  < 12.0 mg/dl
Laki-laki dewasa 13.5-16.5  < 13.5 mg/dl
Wanita dewasa 12.0-15.0  < 12.0 mg/dl

Klasifikasi dan Penyebab Anemia

Anemia pada anak dapat disebabkan oleh banyak hal. Berdasarkan penyebabnya, anemia dikelompokkan menjadi :

  1. Anemia mikrositik. Anemia mikrositik dapat disebabkan oleh :
    • Defisiensi besi
    • Talasemia
    • Infeksi kronik
    • Anemia sideroblastik (jarang)
  1. Anemia normositik. Anemia normositik dapat disebabkan oleh :
    • Produksi sel darah merah berkurang: anemia aplastik, leukemia
    • Perdarahan internal/eksternal
    • Hemolisis (pecahnya sel darah merah) : hemoglobinopathies, membrane disorders (hereditary spherocytosis), paroxysmal nocturnal hemoglobinuria, autoimmune diseases.
  1. Anemia makrositik
    • Defisiensi vitamin B12
    • Defisiensi asam folat

Penyebab Anemia Defisiensi Besi

Anemia pada anak umumnya disebabkan oleh kurangnya konsumsi makanan yang mengandung zat besi seperti daging (red meat), ikan, ayam, sayuran hijau, atau terlalu banyak mengkonsumsi susu sapi (whole milk, susu pasteurisasi). Anemia defisiensi besi juga dapat disebabkan oleh gangguan penyerapan zat besi dalam sistem pencernaan, namun kondisi tersebut jarang terjadi.

Gejala

Pada fase awal penyakit, anemia pada anak biasanya tidak menunjukkan gejala. Apabila anemia berlanjut lama atau kadar Hb sangat rendah, anak bisa mudah lemas, lesu, lelah, kelihatan pucat, kuku jari tangan kelihatan pucat, sesak napas, berat badan tidak naik optimal, penurunan berat badan dan gangguan pertumbuhan.

Anak yang kekurangan zat besi juga bisa timbul prilaku makan yang aneh seperti suka makan es batu, kotoran, tanah liat, lempung, batu bata, dan tepung. Prilaku ini disebut pica. Kondisi tersebut bisa berbahaya terutama bila anak mengkonsumsi bahan beracun. Pica biasanya pulih setelah anemia teratasi dan anak tumbuh dewasa.

Pemeriksaan Laboratorium

Untuk mendiagnosis anemia pada anak, dokter akan melakukan wawancara dan pemeriksaan secara menyeluruh. Apabila terdapat kecurigaan anemia defisiensi zat besi, dokter akan meminta untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium.

Pemeriksaan yang diperlukan untuk membantu diagnosis anemia adalah pemeriksaan darah lengkap, nilai MCV/MCH/MCHC, apusan darah tepi, hitung retikulosit, serum iron, total iron binding capacity (TIBC), dan feritin.

Pengobatan

Pengobatan anemia defisiensi besi adalah pemberian suplemen zat besi dan diet makanan tinggi zat besi..

Suplemen zat besi biasanya diberikan bila kadar Hb di bawah 10 mg/dl atau bila feritin rendah meskipun Hb masih normal. Setelah kadar Hb kembali normal, suplemen zat besi biasanya dilanjutkan hingga 3 bulan.

Pemberian suplemen zat besi perlu didukung dengan perubahan pola makan. Sangat dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi makanan tinggi zat besi seperti daging, ayam, ikan, dan sayuran hijau. Konsumsi susu sapi sebaiknya dibatasi tidak melebihi 500 ml/hari. Selain itu dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi buah/jus yang tinggi kandungan vitamin C. Vitamin C dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Jus/buah vitamin C dianjurkan diberikan bersamaan dengan pemberian suplemen zat besi.

Updated: 11/06/2016

Similar posts