Home » Menyusui » Ciri – Ciri Tenaga Kesehatan Yang Tidak Pro ASI

Ciri – Ciri Tenaga Kesehatan Yang Tidak Pro ASI

Salah satu penghambat terbesar dalam proses menyusui terkadang justru datang dari fasilitas kesehatan yang belum memiliki aturan tegas dan kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan dalam mendukung proses menyusui. Berikut ciri-ciri tenaga kesehatan yang tidak mendukung ASI.

  1. Mengatakan Bahwa Bayi Baru Lahir Tidak Perlu Segera Di Susui. Memang tidak perlu, ciri-tenaga-medis-tidak-pro-asi-bundanettapi menyusui segera setelah lahir seringkali sangat bermanfaat baik bagi bayi maupun bagi ibu. Bayi baru lahir belum tentu ingin segera menyusu, tetapi hal ini bukanlah alasan untuk menghalangi mereka mendapatkan kesempatan menyusu dini. Banyak bayi mulai menyusu satu atau dua jam pasca persalinan, dan ini adalah saat yang paling kondusif untuk mengawali kegiatan menyusui dengan baik, namun mereka tidak akan bisa menyusu kalau dipisahkan dari ibunya. Jika Anda mendapati bahwa proses menimbang, mendapat tetes mata dan suntikan vitamin K bagi bayi lebih diutamakan dibandingkan pemantapan proses menyusui, maka Anda bisa mempertanyakan komitmen mereka terhadap kegiatan menyusui.
  2. Tidak berusaha memberikan bantuan saat Bunda merasa kesulitan menyusui. Hampir semua masalah saat menyusui dapat dicegah serta diatasi, dan hampir selalu jawaban terhadap masalah menyusui bukanlah dengan memberikan susu formula. Sayang sekali, banyak petugas kesehatan, khususnya dokter dan bahkan dokter anak sekalipun, tidak tahu cara yang tepat untuk membantu. Tapi masih ada bantuan tersedia di luar sana. Berkeraslah untuk memperoleh solusi. “Tidak harus menyusui untuk menjadi ibu yang baik” memang benar, tapi kalimat itu bukanlah jawaban bagi masalah menyusui.
  3. Mengatakan bahwa merk susu formula “x” adalah yang terbaik. Hal ini biasanya terjadi karena dia telah mendengarkan terlalu banyak perwakilan perusahaan susu formula tertentu. Bisa juga mungkin anak-anaknya paling cocok memakai susu formula merk tersebut. Ini semua berarti dia telah berprasangka tanpa dasar yang kuat.
  4. Memberikan Bunda sample atau brosur susu formula tertentu. Sampel dan brosur seperti ini adalah ajakan untuk menggunakan produk tersebut, dan membagi-bagikannya disebut pemasaran. Brosur, CD, atau video-video yang mendampingi sampel-sampel itu adalah sarana untuk secara halus (yang tidak terlalu halus) agar Bunda mau menggunakan produk susu formula tersebut.
  5. Mengatakan bahwa bayi yang diberikan ASI atau susu formula sama saja. Banyak unsur dalam ASI tidak dijumpai dalam susu formula, walaupun kita sudah tahu selama bertahun-tahun arti penting kandungan itu bagi bayi – misalnya, zat-zat antibodi dan sel-sel yang melindungi bayi dari infeksi, faktor-faktor pertumbuhan yang membantu mematangkan sistem imunitas tubuh, otak, dan organ-organ lain. Dan menyusui tidak sama dengan memberi susu formula, ini dua jenis relasi yang sama sekali berbeda. Kalau Anda tidak mampu menyusui, itu suatu hal yang sangat disayangkan (walaupun kondisi itu hampir selalu dapat dicegah), tapi menyiratkan bahwa menyusui itu tidak penting adalah menyesatkan dan seratus persen keliru. Memang seorang bayi tidak harus diberi ASI untuk dapat tumbuh bahagia, sehat dan baik, tetapi dengan memberikan ASI sangat membantu mencapai hal tersebut.
  6. Heran jika ada bayi usia 6 bulan masih menyusui. Di sebagian besar tempat di dunia, menyusui sampai anak berumur dua atau tiga tahun dianggap umum dan normal, meskipun, akibat pemasaran formula yang gencar, makin lama makin tidak lazim.
  7. Mengatakan bahwa setelah 6 bulan ASI sudah tidak memiliki kandungan gizi. ASI tetaplah susu, di dalamnya masih terkandung lemak, protein, kalori, vitamin-vitamin dan tentunya zat-zat antibodi dan unsur-unsur lain yang melindungi bayi dari berbagai infeksi, sebagian lebih banyak jumlahnya daripada saat bayi masih kecil. Sekalipun misalnya hal ini benar, menyusui masih bermanfaat untuk ibu dan bayi. Menyusui adalah interaksi istimewa antara dua orang yang saling mengasihi, sekalipun tidak ada air susu yang dihasilkan. Tapi pendapat tenaga kesehatan itu tidak benar. Siapa saja yang menyampaikan pendapat seperti itu kepada Anda pasti tidak tahu informasi dasar tentang menyusui.
  8. Mengatakan bahwa tidak ada yang namanya bingung puting. Untuk itulah mereka menyarankan Bunda untuk segera mulai mengenalkan dot pada bayi supaya dia mau minum lewat dot. Dot itulah, yang tidak pernah dipakai oleh mamalia lain kecuali manusia, itu pun tidak lazim bagi manusia sebelum akhir abad ke-19. Masalah-masalah menyusui seringkali disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, salah satunya bisa jadi penggunaan puting buatan, yang menambah masalah yang sudah ada.
  9. Menyuruh Bunda menghentikan menyusui hanya karena Bunda atau bayi sedang sakit. Ada situasi-situasi yang jarang, langka, ketika menyusui tidak bisa dilanjutkan, tapi amat sangat sering tenaga kesehatan keliru ketika beranggapan bahwa seorang ibu tidak bisa terus menyusui. Ketika ibu harus mengkonsumsi obat, tenaga kesehatan akan mencoba memakai obat yang tidak menuntut ibu berhenti menyusui (faktanya, sangat sedikit obat yang mengharuskan ibu berhenti menyusui). Amat sangat jarang terjadi hanya ada satu jenis obat yang bisa dipakai untuk kasus tertentu. Jika pilihan pertama tenaga kesehatan adalah obat yang menuntut Anda berhenti menyusui, Anda berhak kuatir bahwa dia tidak mempertimbangkan pentingnya menyusui.
  10. Mengatakan jangan pernah membiarkan anak menyusu sampai tertidur. Mengapa tidak? Kalau bayi juga bisa tertidur tanpa menyusu itu bagus, tapi salah satu keuntungan menyusui adalah Anda punya cara mudah untuk menidurkan bayi yang lelah. Para ibu di seluruh dunia sejak era munculnya mamalia telah melakukan itu. Salah satu kenikmatan besar menjadi orangtua adalah membiarkan seorang anak tertidur dalam pelukan Anda, merasakan kehangatan tubuhnya sementara rasa kantuk melelapkannya. Hal tersebut juga merupakan salah satu kenikmatan menyusui, baik bagi ibu dan mungkin juga bayi, ketika bayi bisa jatuh tertidur saat menyusu.

Ada baiknya sebelum melakukan persalinan, komunikasikan kepada tenaga medis yang Bunda pilih. Tanyakan pada dokter yang akan membantu proses persalinan, apakah dokter tersebut dapat membantu proses IMD.

Jika memang sudah menggunakan jasa salah satu rumah sakit dan baru saja diketahui bahwa rumah sakit tersebut tidak pro terhadap pemberian ASI eksklusif, artinya ibu dan keluarga harus ngotot untuk tetap memberi ASI eksklusif pada anak.

Apabila Bunda diminta untuk menandatangani Informed Consent, tanda tangani saja. Tak perlu takut. Dalam UU Kesehatan no. 36 tahun 2009 pasal 200, negara akan menghukum siapapun yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif dengan hukuman kurungan penjara selama satu tahun dan denda Rp 100 juta rupiah.

Referensi:

  1. International Breastfeeding Center – dr. Jack Newman
  2. Perlindungan Hukum Atas Pemberian ASI Eksklusif – HukumOnline.com