Home » Menyusui » Efek Negatif Penggunaan Dot Pada Bayi

Efek Negatif Penggunaan Dot Pada Bayi

penggunaan-dot-pada-bayi-bundanetASI merupakan sumber nutrisi terbaik dan terlengkap yang dibutuhkan oleh setiap bayi. Idealnya ASI diberikan secara eksklusif selama 6 bulan pertama dan kemudian dilanjutkan bersama makanan pendamping ASI (MPASI) hingga usia 2 tahun atau lebih. Beberapa keadaan seperti ibu terkena penyakit, bayi sakit atau ibu yang bekerja, mengakibatkan ibu tidak dapat menyusui bayinya secara langsung, namun ibu masih dapat memberikan ASI dengan cara di pompa atau diperah menggunakan tangan lalu diberikan kepada bayinya. Lalu bagaimana sebetulnya cara terbaik untuk memberikan ASI kepada bayi? Apa saja efek negatif penggunaan dot pada bayi?

Dalam Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM) yang dicanangkan WHO dan UNICEF pada langkah ke 9 yaitu “Tidak Memberikan dot atau empeng kepada bayi”. Langkah ini dimaksudkan agar semua bayi yang menyusu akan selalu mendapatkan ASI dan tidak akan terganggu proses menyusunya dengan penggunaan dot atau empeng.

Dot yang juga dikenal sebagai dummy, soother atau pacifier yang biasanya terbuat dari karet atau plastik. Non nutritive sucking seperti halnya dot, sudah lama dikenal dalam sejarah umat manusia, penggunaannya merupakan usaha orangtua untuk memberikan rasa nyaman dan menenangkan bagi bayi. Dot, secara universal seakan menjadi simbol perlengkapan perawatan bayi, penggunaannya sangat luas di seluruh dunia. Sayangnya, masyarakat Indonesia pun turut mengikuti kebiasaan tersebut. Masih banyak masyarakat kita menganggap dot merupakan perlengkapan yang wajib di miliki bayi, menggunakan dot sebagai hadiah bagi yang baru melahirkan bayi.

Pada awalnya dot terbuat dari bahan tanah liat, perak, mutiara, tanduk dan gading dengan kantung kecil di ujungnya yang berisi air gula. Bahan karet mulai digunakan di Inggris sejak tahun 1800, dengan disertai botol susu. Dalam bentuk yang modern, dot dibuat sekitar tahun 1900 yang desainnya mendapatkan hak paten di Amerika Serikat, dan lebih dikenal dengan baby comforter.

Kenapa Botol – Dot sebaiknya tidak digunakan untuk memberikan ASIP (ASI Perah)?

Menurut dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC, dibandingkan mencuci cangkir atau sendok, membersihkan botol dan dot jauh lebih sulit, lebih rumit dan lebih lama. Beberapa efek negatif penggunaan botol – dot yang telah diteliti, antara lain: meningkatkan angka kejadian radang telinga tengah, mal-oklusi (susunan gigi geligi dan rahang tidak sempurna), dan karies gigi (dikaitkan dengan jenis cairan yang diberikan dengan botol – dot). Karena mekanisme pengaliran yang berbeda dengan payudara, penggunaan botol – dot diduga dapat mengganggu proses menyusui pada payudara. Istilah “bingung puting” memang masih pro – kontra, namun sebaiknya menghindari resiko tersebut dengan tidak mengenalkan botol – dot untuk memberikan ASIP.

KONTROVERSI PENGGUNAAN DOT

  1. Penyapihan Dini

Penggunaan dot diawal kelahirannya akan mengganggu proses bayi belajar menyusu di payudara. Menghisap payudara berbeda dengan menghisap botol – dot, dan ada beberapa bayi yang sensitif terhadap perbedaan mekanisme menghisap tersebut. Pengenalan dot sejak dini dapat menyebabkan teknik menghisap yang salah pada bayi. Bayi mungkin akan terbiasa dengan puting buatan dan menolak payudara ibu. Akibatnya, bayi menjadi kurang sering menyusu pada payudara ibu dan akhirnya akan memicu penyapihan dini. Dari beberapa penelitian, penggunaan dot telah terbukti mengakibatkan penyapihan dini pada bayi. Bayi menemukan kesenangan dengan menghisap dot, sehingga tidak berselera lagi untuk menyusui secara langsung pada ibu. Akibatnya rangsangan hisapan bayi ke puting susu berkurang, sehingga produksi ASI akan menurun.

  1. Maloklusi dan Karies Gigi

Penggunaan dot yang berkepanjangan mempunyai korelasi kuat dengan timbulnya masalah gigi, seperti karies dan maloklusi. Dari beberapa penelitian, terbukti ada korelasi antara penggunaan dot yang berkepanjangan (2 tahun atau lebih) dengan timbulnya karies. Keadaan ini diperberat bila penggunaan dot dilakukan sambil tidur.

maloklusi-pada-anak-bundanet

  1. Infeksi

Penggunaan dot sering dihubungkan dengan meningginya kejadian infeksi pada bayi karena transmisi mikroorganisme patogen, antara lain timbulnya otitis media, thrush, diare dan infeksi saluran nafas. Otitis Media Akut (OMA) adalah salah satu infeksi yang paling umum terjadi pada masa kanak-kanak. Beberapa penelitian melaporkan terjadinya peningkatan insiden OMA dihubungkan dengan penggunaan dot. Hal ini mungkin berhubungan dengan ketidakseimbangan tekanan antara rongga telinga tengah dan nasofaring, yang akan merusak fungsi tuba Eustachius. Aktifitas menyedot yang terjadi ketika bayi mengempeng dapat menarik cairan dari kerongkongan ke saluran telinga bagian tengah. Hal ini menyebabkan telinga bayi lebih mudah terinfeksi bakteri.

Penggunaan dot di awal proses menyusui akan mengganggu proses belajar menyusu pada bayi. Mekanisme menghisap payudara berbeda dengan menghisap botol – dot, dan ada beberapa bayi yang sensitif terhadap perbedaan mekanisme tersebut. Penelitian menunjukkan penggunaan dot – empeng di awal proses belajar menyusui dikaitkan dengan menurunnya angka pemberian ASI Eksklusif dan durasi menyusui.

Referensi:

  1. Masalah Penggunaan Dot Pada Bayi – Ari Yunanto (Ikatan Dokter Anak Indonesia)
  2. Bingung Puting – Eveline P.N (Satgas ASI – Ikatan Dokter Anak Indonesia)
  3. Pacifiers: Are they good for your baby? – Mayoclinic
  4. Pacifiers: Pros, cons, and smart ways to use them – Baby Centre
  5. Buku Indonesia Menyusui
Similar posts