Home » Kesehatan Wanita » Kontrasepsi » Kontrasepsi – Pilih Yang Mana Yah ?

Kontrasepsi – Pilih Yang Mana Yah ?

Memilih metode kontrasepsi yang paling sesuai tentu saja merupakan pekerjaan yang tidak mudah, apalagi untuk pasangan muda yang belum mempunyai pengalaman tentang kontrasepsi.

Belum lagi berbagai informasi yang tidak jelas sumbernya berseliweran disekeliling kita baik mengenai kemungkinan efek samping, kegagalan kontrasepsi maupun cara pemasangan yang menakutkan.

Kesibukan mengurus bayi juga seringkali menjadi hambatan untuk memikirkan dan berdiskusi dengan pasangan mengenai metode kontrasepsi yang ideal bagi mereka. Tentu saja setiap pasangan mempunyai rencana masing-masing tentang jumlah anak, jarak antara tiap kehamilan, lamanya menyusui maupun metode yang paling sesuai dengan kondisi mereka.

Tetapi, menggunakan kontrasepsi seharusnya tidak ditunda-tunda, apalagi untuk bunda yang bekerja. Karena walaupun bunda menyusui tetapi karena cuti melahirkan hanya tiga bulan, maka dalam waktu 2-3 bulan bunda harus meninggalkan bayi dan kembali bekerja. Menyusui sebagai metode kontrasepsi bisa berlaku bila :

  • Menyusui secara penuh dan menyusui tiap 4-6 jam
  • Belum haid
  • Umur bayi kurang dari 6 bulan.

KB_Alami_bundanetJadi bila bunda tidak termasuk yang bisa memenuhi kategori tersebut sebaiknya segera mencari metode kontrasepsi lain sehingga kehamilan yang tidak direncanakan bisa dihindari.

Dibawah ini akan dibahas beberapa perbandingan mengenai beberapa metode kontrasepsi yang sering digunakan, sehingga diharapkan bunda dan pasangan tidak bingung dan ragu lagi untuk memilih metode kontrasepsi.

Berbagai metode kontrasepsi mempunyai perbedaan baik dalam hal efektifitas, langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pengguna dan efek samping.

Perbedaan dalam langkah-langkah yang harus dilakukan oleh pengguna, misalnya, pada pengguna metode barier, spermisida atau senggama terputus harus dilakukan pada setiap kali berhubungan seksual. Kondom pria tidak bisa digunakan sebelum penis ereksi. Metode barier lainnya seperti diafragma, tudung leher rahim dan kondom wanita harus dipakai beberapa jam sebelum memulai hubungan seksual.

Pada pengguna AKDR, vasektomi, tubektomi dan implan, hanya sedikit atau tidak ada yang perlu dilakukan pasca tindakan atau pasca pemasangan. Tidak ada ritual khusus pula yang perlu dilakukan sebelum hubungan seksual dalam rangka untuk mencegah kehamilan. AKDR memerlukan kontrol berkala untuk mengecek posisinya dalam rahim, kecuali bunda menginginkan mengecek sendiri dengan meraba benang di dalam vagina. Bila benang masih teraba dan tidak teraba bagian keras dari AKDR maka posisinya masih baik. AKDR dipasang dan dilepas atau diganti (jika menginginkan) hanya sekali dalam beberapa tahun (maksimal 5 tahun).

Metode kontrasepsi mantap seperti vasektomi dan tubektomi merupakan prosedur yang permanen, jadi satu kali dilakukan maka tidak ada ritual lain yang perlu dilakukan. Implan merupakan metode kontrasepsi yang efektif untuk pemakaian tiga tahun tanpa memerlukan tindakan khusus setelah pemasangan hingga pencabutan implan. Tetapi metode ini memerlukan prosedur bedah kecil untuk pemasangan dan pencabutannya.

Pil kontrasepsi harus diminum setiap hari. Sedangkan suntikan kontrasepsi harus disuntikkan tiap satu bulan untuk suntikan kombinasi atau tiap tiga bulan untuk suntikan progestin.

EFEK SAMPING

Masing-masing metode kontrasepsi mempunyai kemungkinan efek samping yang berbeda. Tidak semua akseptor (pengguna) akan mengalami efek samping akibat penggunaan kontrasepsi. Bila suatu metode makin kurang efektif maka kemungkinan kegagalan sehingga terjadi kehamilan akan makin besar.

Metode kontrasepsi senggama terputus, KB alamiah danĀ  metode amenore laktasi (MAL) merupakan metode tanpa efek samping atau dengan efek samping minimal. Metode barier mempunyai risiko reaksi alergi. Pengguna yang sensitif terhadap lateks dapat menggunakan kondom yang terbuat dari material yang minimal menyebabkan alergi, seperti kondom poliuretan atau diafragma silikon. Metode barier juga seringkali digunakan bersama spermisida. Spermisida mempunyai kemungkinan efek samping berupa iritasi alat kelamin, infeksi vagina dan infeksi saluran kemih.

Prosedur sterilisasi (vasektomi atau tubektomi) termasuk metode kontrasepsi dengan risiko yang rendah. Sterilisasi wanita (tubektomi) merupakan tindakan operasi yang lebih sulit dibandingkan vasektomi sehingga mempunyai risiko yang lebih tinggi.

Setelah pemasangan AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim), akseptor mungkin mengalami haid lebih banyak dan lebih lama. Walaupun begitu, 99% akseptor AKDR cukup senang menggunakannya. Karakteristik positif dari AKDR adalah kesuburan dapat segera kembali setelah AKDR dilepas. Sedangkan metode hormonal mempunyai beberapa potensi efek samping yang lebih sering karena efek sistemik dari hormon tersebut.

PERBANDINGAN EFEKTIFITAS

Di bawah ini terdapat perbandingan berbagai macam metode kontrasepsi mulai dari yang kurang efektif hingga yang paling efektif.

metode-kontrasepsi-bundanet

Dari gambar di atas maka tampak bahwa metode kontrasepsi ADR, Implan, tubektomi dan vasektomi merupakan metode yang paling efektif. Sedangkan suntik kb, pil kb dan diafragma mempunyai efektifitas cukup. Kondom, senggama terputus, kontrasepsi alamiah dan spermisida termasuk metode kontrasepsi dengan efektifitas yang kurang baik.

Bila efektifitas merupakan faktor yang sangat penting dalam pemilihan metode kontrasepsi yang ingin digunakan, maka penggunaan ADR, implan, tubektomi atau vasektomi merupakan pilihan yang tepat.

Sebagai kesimpulan, maka kami coba rangkum perbandingan dari beberapa metode kontrasepsi yang paling sering digunakan pada tabel di bawah ini :

metode_kontrasepsi_bundanet

metode_KB_bundanet

Updated: 11/06/2016

Similar posts