Home » Kehamilan » Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Laboratorium

pemeriksaan_laboratorium_saat_hamil_bundanetSebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan, bunda akan disarankan untuk melakukan beberapa pemeriksaan laboratorium. Beberapa pemeriksaan dilakukan untuk semua ibu hamil dan beberapa pemeriksaan lainnya khusus untuk ibu dengan risiko penyakit infeksi tertentu atau penyakit yang diturunkan.

Seluruh pemeriksaan ini dilakukan untuk membantu agar kehamilan berlangsung aman atau untuk memeriksa bahwa kondisi janin sehat

Pemeriksaan golongan darah dan faktor rhesus

Bunda akan dilakukan pemeriksaan golongan darah dan apakah mempunyai rhesus negatif atau positif. Di Indonesia diduga kurang dari 1% populasi dengan rhesus negatif.

ibu_hamil_dengan_rhesus_negative_bundanetPemeriksaan rhesus menjadi penting karena bila wanita dengan rhesus negatif menikahi pria dengan rhesus positif maka anak dari pasangan tersebut bisa mempunyai rhesus negatif (seperti ibunya) atau rhesus positif (seperti ayahnya). Bila ibu tersebut hamil dengan janin rhesus positif maka ia akan memproduksi antibodi terhadap sel darah merah janin tersebut.

Hal ini biasanya tidak akan menyebabkan efek pada kehamilan pertama tetapi ibu tersebut berarti telah mengalami ‘sensitisasi’. Tetapi jika ibu tersebut hamil kedua dengan janin rhesus positif maka akan merangsang respon imun yang telah terbentuk tersebut dan menyerang sel darah merah janin sehingga sel darah merah janin bisa pecah dan janin menjadi anemia berat yang disebut sebagai haemolytic disease of the newborn.

Penapisan Anemia
anemia_pada_ibu_hamil_bundanet

Anemia bisa membuat bunda mudah merasa lelah dan tubuh tidak mampu mengantisipasi bila terjadi perdarahan saat persalinan. Jika saat pemeriksaan didapatkan anemia maka akan ditelusuri penyebab anemia tersebut dengan pemeriksaan laboratorium lanjut, penyebab tersering adalah defisiensi zat besi dan talasemia. Setelah diketahui penyebab anemianya baru akan diberikan terapi sesuai dengan penyebabnya.

Imunitas terhadap rubella (campak jerman)

Hindari tertular rubella saat hamil karena dapat menyebabkan masalah serius pada janin. Karena itu dianjurkan melakukan pencegahan dengan melakukan vaksinasi rubella. Tetapi karena vaksin rubella tidak bisa diberikan pada saat hamil maka bila pada pemeriksaan imunitas rubella didapatkan belum ada imunitas atau imunitasnya rendah maka dianjurkan melakukan vaksinasi rubella setelah melahirkan.

Hepatitis B
hepatitis_b_pada_ibu_hamil_bundanet

Virus ini dapat menyebabkan kerusakan berat pada hati. Jika ibu hamil tertular virus ini maka janin bisa terinfeksi. Janin tidak akan selalu menjadi sakit tetapi berisiko tinggi mengalami infeksi jangka panjang dan penyakit hati berat di kemudian hari. Karena itu bayi tersebut harus mendapatkan imunisasi saat lahir untuk mencegah infeksi.


Hepatitis C

Virus ini dapat menyebabkan penyakit hati serius, tetapi bila ibu menderita hepatitis C maka risiko virus ini menginfeksi janin relatif kecil. Infeksi hepatitis C hingga kini belum bisa dicegah dan tes untuk hepatitis C tidak selalu dilakukan secara rutin saat pemeriksaan kehamilan. Jika bunda mempunyai risiko tinggi untuk tertular virus ini maka bicarakan dengan dokter untuk melakukan pemeriksaan. Jika ibu hamil dengan infeksi hepatitis C maka beberapa hari setelah lahir, bayinya akan dilakukan pemeriksaan pula kemungkinan tertular virus ini.

Sifilis

Pemeriksaan terhadap penyakit menular seksual ini dilakukan karena jika ibu hamil menderita penyakit ini dan tidak diterapi maka dapat menyebabkan keguguran atau bayi lahir mati.

HIV

penularan_HIV_AIDS_pada_janin_bundanetVirus ini dapat menyebabkan AIDS. Jika bunda terinfeksi maka dapat menularkan virus tersebut ke janin selama kehamilan, atau saat persalinan, atau setelah melahirkan melalui menyusui. Saat pemeriksaan kehamilan ibu hamil ditawarkan untuk pemeriksaan HIV. Jika ibu hamil terinfeksi HIV maka ibu akan mendapatkan penanganan dan edukasi baik saat hamil maupun melahirkan dengan tujuan mengurangi risiko penularan ke janin. Risiko penularan ke bayi dari ibu yang diterapi dibandingkan tanpa terapi akan terjadi perbedaan yang signifikan. Setelah lahir bayi akan diperiksa dan mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kondisinya.

Herpes

Jika bunda atau suami pernah menderita herpes atau saat hamil terinfeksi pertama kali dengan virus herpes yang ditandai dengan ditemukannya blister  atau luka pada area kemaluan sampaikan ke dokter untuk dicatat pada rekam medis dan dilakukan penanganan, karena infeksi herpes dapat berbahaya pada bayi baru lahir.

Updated: 06/06/2016

Similar posts