Home » Kesehatan Anak » Penyakit Anak » Deteksi Dini dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi Pada Bayi dan Anak

Deteksi Dini dan Pencegahan Anemia Defisiensi Besi Pada Bayi dan Anak

deteksi-dan-pencegahan-anemia-bundanetAnemia defisiensi besi merupakan masalah kesehatan yang cukup sering terjadi pada anak-anak. Dampak anemia defisiensi besi dalam jangka panjang dapat mempengaruhi perkembangan dan prilaku anak, meskipun memang banyak faktor lain yang mempengaruhi perkembangan dan prilaku anak.

Di Amerika Serikat, prevalensi defisiensi zat besi adalah 4 persen pada bayi usia 6 bulan, 12 persen pada bayi usia 12 bulan dan 6,6 – 15,2 persen pada anak usia 1-3 tahun. Di Indonesia, prevalensi defisiensi besi dan anemia defisiensi besi pada bayi di bawah 3 tahun (batita) lebih besar mengingat Indonesia adalah negara berkembang.

Berkaitan permasalahan defisiensi besi dan anemia defisiensi besi pada batita tersebut, American Academy of Pediatrics (AAP) mempublikasikan sebuah laporan klinis: Diagnosis and Prevention of Iron-Deficiency Anemia in Infants and Young Children (0-3 years of age). Pada laporan tersebut, AAP merekomendasikan beberapa protokol skrining, diagnosis dan pecegahan defisiensi zat besi dan anemia defisiensi besi.

Berikut ini rekomendasi AAP :

  1. Bayi yang lahir cukup bulan dan sehat, mempunyai kecukupan zat besi di dalam tubuhnya sampai usia 4 bulan. Namun karena air susu ibu (ASI) mengandung zat besi dalam jumlah sedikit, bayi dengan ASI ekslusif sebaiknya diberikan suplemen zat besi 1 mg/kg berat badan yang dimulai sejak bayi berusia 4 bulan hingga makanan yang cukup kandungan zat besinya dapat diberikan. Untuk bayi yang mendapatkan ASI dan susu formula, dan belum bisa diberikan makanan yang cukup kandungan zat besinya sebaiknya juga mendapatkan suplemen zat besi 1 mg/kgBB setiap hari.
  2. Bayi yang mendapat susu formula, kebutuhan zat besi selama 12 bulan pertama dapat dicukupi dari susu formula standar (yang kandungan zat besinya 10-12 mg/L) dan pemberian makanan tambahan yang mengandung zat besi setelah usia 4 – 6 bulan, termasuk sereal yang difortifikasi zat besi. Whole milk (susu UHT, pasteurisasi) sebaiknya tidak diberikan sebelum bayi berusia 12 bulan.
  3. Kebutuhan zat besi pada bayi usia 6 – 12 bulan adalah 11 mg/hari. Bayi yang sudah diberikan makanan tambahan sebaiknya diberikan daging (red meat) dan sayuran yang tinggi zat besi lebih awal, yang berarti dapat diberikan sejak bayi usia 6 bulan. Untuk meningkatkan asupan zat besi, suplemen besi (suplemen Fe) dapat diberikan apabila kebutuhan zat besi tidak dapat dipenuhi dari susu formula atau makanan tambahan.
  4. Asupan zat besi pada anak usia 1 sampai 3 tahun sebaiknya 7 mg/hari. Kebutuhan tersebut sebaiknya dipenuhi dari daging, sereal yang difortifikasi zat besi, sayuran yang mengandung zat besi, dan buah yang mengandung vitamin C untuk meningkatkan penyerapan besi. Untuk anak yang asupan zat besinya dinilai kurang, suplemen besi dapat diberikan.
  5. Bayi yang lahir prematur memerlukan zat besi setidaknya 2 mg/kgBB per hari hingga usia 12 bulan. Kebutuhan zat besi tersebut dapat dipenuhi dari susu formula yang difortifikasi besi. Bayi prematur yang mendapatkan ASI sebaiknya mendapatkan suplemen besi 2 mg/kgBB hingga usia 1 bulan, dan dilanjutkan hingga bayi mendapatkan susu formula yang difortifikasi besi atau makanan tambahan yang dapat memenuhi kebutuhan besi 2 mg/kgBB. Bagi bayi yang mendapatkan tranfusi darah tidak memerlukan suplemen besi.
  6. Skrining anemia sebaiknya dilakukan pada usia 12 bulan dengan pemeriksaan hemoglobin (Hb) dan penilaian risiko defisiensi besi atau anemia defisiensi besi.
  7. Jika kadar Hb kurang dari 11 mg/dl pada usia 12 bulan, pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui penyebab anemia.  Jika terdapat risiko anemia defisiensi besi, maka diperlukan pemeriksaan yang sesuai untuk diagnosis defisiensi besi. Adapun pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai defisiensi besi adalah serum ferritin dan CRP.

 

Updated: 11/06/2016

Similar posts