Home » Kesehatan Anak » Penyakit Tifus (Demam Tifoid)

Penyakit Tifus (Demam Tifoid)

penyakit-tifusDemam tifoid (typhoid fever) atau yang lebih dikenal dengan penyakit tifus adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh Samonella typhi. Demam tifoid masih menjadi penyakit yang endemik di Indonesia. Penyakit tersebut menyerang anak-anak dan dewasa.

Salah satu permasalahan demam tifoid di Indonesia adalah meningkatnya resistensi/kekebalan bakteri Salmonella typhi terhadap antibiotik. Hal tersebut disebabkan karena diagnosis demam tifoid seringkali ditegakkan tanpa dasar yang kuat dan penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Jadi sebetulnya diagnosis demam tifoid tidaklah mudah. Namun pasien yang sakit demam dengan hasil tes widal yang positif, sering didiagnosis sakit tifus dan diresepkan antibiotik.

GEJALA PENYAKIT TIFUS

Gejala-tipes

Gejala demam tifoid dapat bervariasi mulai dari demam ringan hingga sakit berat disertai komplikasi. Gejala utama demam tifoid adalah demam berkepanjangan, yaitu demam yang berlangsung ≥ 5 hari. Pola demam dapat bersifat khas/klasik tifoid yaitu demam yang rendah dan perlahan-lahan demam meningkat dari hari ke hari hingga demam cenderung konstan tinggi. Namun pola demam yang klasik tersebut sudah jarang ditemui karena pengaruh antibiotik.

Demam dapat disertai gejala nonspesifik lainnya seperti mengigil, sakit kepala, lemas, pusing, batuk kering dan nyeri otot/pegal-pegal. Gejala tidak spesifik tersebut sering juga dikenal dengan istilah ‘flu-like illness’ dan dapat juga disebabkan oleh infeksi lainnya. Pada demam tifoid juga terdapat keluhan gangguan pencernaan yaitu nyeri perut, diare, atau konstipasi (susah buang air besar). Diare lebih sering ditemukan pada anak-anak.

Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter dapat ditemukan ruam/rash (rose spots), coated tongue, pembesaran hati, pembesaran kelenjar limpa, mimisan, dan bradikardi relatif (detak jantung relatif lebih lambat).

Pada demam tifoid dapat terjadi komplikasi pada 10-15% kasus. Komplikasi biasanya terjadi pada pasien yang telah sakit selama lebih dari 2 – 3 minggu tanpa pengobatan. Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan saluran pencernaan, perforasi intestinal (kebocoran pada usus), ensefalopati dan penurunan kesadaran. Meskipun jarang, dapat juga terjadi komplikasi meningitis (radang selaput otak), hepatitis, miokarditis, pneumonia, disseminated intravascular coagulation, dan hemolytic uremic syndrome. Komplikasi tersebut dapat mengakibatkan kematian.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM PENYAKIT TIFUS

Untuk membantu dokter menegakkan diagnosis demam tifoid diperlukan pemeriksaansalmonella-typhi penunjang. Pemeriksaan yang spesifik dan merupakan standar baku (gold standard) diagnosis demam tifoid adalah kultur darah yang positif Salmonella typhi.

Pemeriksaan laboratorium lainnya tidak spesifik namun tetap dapat dilakukan untuk menunjang diagnosis. Adapun pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan adalah pemeriksaan darah lengkap, fungsi hati, serologi, dan kultur.


Pemeriksaan Darah Lengkap

Pada pemeriksaan darah lengkap dapat ditemukan jumlah leukosit rendah (leukopenia). Namun pada sebagian besar kasus, jumlah leukosit bisa normal. Leukosit bisa meningkat pada anak-anak atau apabila terdapat komplikasi perforasi intestinal dan infeksi sekunder. Hemoglobin biasanya normal. Namun apabila terjadi perdarahan, hemoglobin bisa turun di bawah nilai normal. Selain itu dapat juga ditemukan trombosit turun dan laju endap darah tinggi.


Fungsi Hati

Pada tes fungsi hati dapat terjadi peningkatan ringan enzim-enzim hati seperti peningkatan SGOT, SGPT, dan alkaline phosphatase.


Serologi

Pemeriksaan serologi yang dapat dilakukan adalah tes Widal, tes Tubex, tes Typhidot dan Typhidot-M.

Tes Widal merupakan pemeriksaan laboratorium yang sering digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Namun dewasa ini pemeriksaan tes widal menjadi kontroversial karena sensitivitas dan spesifitasnya bervariasi dan hasilnya dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Tes widal dapat memberikan hasil positif palsu (hasil tes menunjukkan demam tifoid tetapi sebenarnya tidak) maupun negatif palsu (hasil tes menunjukkan TIDAK demam tifoid tetapi sebenarnya positif demam tifoid). Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil tes widal adalah pernah mendapatkan imunisasi tifus, reaksi silang dengan spesies lain (Eterobacteriacea sp), atau pernah terinfeksi Salmonella typhi. Apabila demam tifoid hanya ditegakkan dengan tes widal, maka tidak jarang terjadi overdiagnosis.

Tes Typhidot dan Typhidot-M lebih unggul bila dibandingkan dengan Tes Widal. Tes Typhidot mendeteksi antibodi total (IgM dan IgG) Salmonella typhi sehingga tidak bisa membedakan antara infeksi akut dengan infeksi yang telah lampau. Sedangkan Tes Typhidot-M mendeteksi hanya IgM Salmonella typhi dan menunjukkan adanya infeksi akut. Berdasarkan penelitian, tes Typhidot-M memberikan hasil sensitivitas dan spesifitas yang tinggi sehingga saat ini lebih direkomendasikan untuk diagnosis demam tifoid. Meskipun demikian, tes Typhidot-M tidak dapat menggantikan kultur darah yang merupakan standar baku diagnosis pasti demam tifoid. Dalam penerapannya, apabila secara klinis pasien diduga demam tifoid dan tes Typhidot-M positif, terapi antibiotik dapat diberikan sambil menunggu hasil kultur.


Kultur Biakan Empedu (Gall Culture)

Kultur darah merupakan standar baku untuk diagnosis demam tifoid. Sampel darah pasien diambil untuk dikembangbiakan dalam biakan empedu (gall culture). Jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk demam tifoid. Namun jika hasil negatif, belum tentu demam tifoid.

Salah satu kekurangan pemeriksaan ini adalah hasilnya baru bisa diketahui setelah 7 hari sejak pengambilan sampel darah. Selain dari sampel darah, bahan untuk kultur juga dapat diambil dari urin, tinja, dan sumsum tulang. Bahan dari sumsum tulang jarang sekali dilakukan karena prosedurnya terlalu invasif.


PENGOBATAN PENYAKIT TIFUS

Pengobatan demam tifoid dapat dilakukan secara rawat jalan dengan minum antibiotik, bed rest (tirah baring, istirahat di tempat tidur), dan diet lunak rendah serat. Apabila demam tidak turun, kondisi tidak membaik, apalagi bila justru memburuk selama pengobatan di rumah, maka sebaiknya dirawat di rumah sakit. Indikasi rawat inap adalah apabila demam tifoid berat atau terjadi komplikasi seperti toxic typhoid, sepsis, peritonitis atau perforasi (kebocoran pada saluran cerna).

Pengobatan Demam Tifoid

  • Antibiotik
    Demam tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella typhi, sehingga memerlukan antibiotik. Antibiotik lini pertama adalah chloramphenicol, amoxicillin, atau cotrimoxazole. Antibiotik lini kedua adalah golongan fluoroquinolone (ofloxacin, ciprofloxacin) atau golongan cephalosporine (ceftriaxone, cefixime, atau cefotaxime). Lama pemberian antibiotik adalah 7-14 hari.
  • Penurun panas
    Penurun panas yang sering diberikan adalah parasetamol.
  • Kortikosteroid
    Kortikosteroid dapat diberikan pada demam tifoid berat.
  • Diet lunak rendah serat, dan makan makanan bergizi
  • Pemberian cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi


SUMBER :

  1. http://www.nc.cdc.gov/travel/yellowbook/2010/chapter-2/typhoid-paratyphoid-fever.aspx
  2. http://www.expat.or.id/medical/answers2.html

 

Updated: 04/06/2016

Similar posts